Tfr0TSW5TpO7BSYlTSAlTfC5Gi==

Yayasan Hari Puisi Menduniakan Puisi Indonesia melalui Hacia Todo, Antologi Puisi Dwibahasa Indonesia–Spanyol

Yayasan Hari Puisi Menduniakan Puisi Indonesia melalui Hacia Todo, Antologi Puisi Dwibahasa Indonesia–Spanyol



JAKARTA — Yayasan Hari Puisi, melalui program Menduniakan Puisi Indonesia, meluncurkan Hacia Todo: Antología Bilingüe de Poesía Indonesio-Española (Kepada Segala: Antologi Puisi Dwibahasa Indonesia–Spanyol). Buku ini merupakan seri pertama program Menduniakan Puisi Indonesia yang digagas Yayasan Hari Puisi sebagai bagian dari rangkaian Perayaan Hari Puisi Indonesia 2026.

Penerbitan buku ini terlaksana atas Bantuan Pemerintah (Banpem) dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia. Kehadiran Hacia Todo menjadi salah satu langkah konkret untuk memperkenalkan kekayaan puisi Indonesia kepada pembaca internasional, khususnya masyarakat sastra berbahasa Spanyol.

Buku ini menghimpun karya sejumlah penyair yang memiliki keterkaitan dengan perjalanan Hari Puisi Indonesia, mulai dari inisiator dan deklarator Hari Puisi Indonesia, pemenang utama Sayembara Buku Puisi Hari Puisi Indonesia, penerima Anugerah Kepenyaian Adiluhung, hingga pengurus Yayasan Hari Puisi.

Selain itu, antologi ini menghadirkan karya sejumlah tokoh sebagai bentuk penghormatan, di antaranya Susilo Bambang Yudhoyono, Presiden Republik Indonesia ke-6; Fadli Zon, Menteri Kebudayaan Republik Indonesia; Abdul Mu’ti, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia; Hafidz Muksin, Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa; serta Taufiq Ismail, yang dikenal luas sebagai salah satu tokoh penting dalam sejarah sastra Indonesia.

Penerjemahan puisi ke dalam bahasa Spanyol menjadi salah satu tantangan utama dalam penyusunan antologi ini. Penerjemah Danny Susanto menegaskan bahwa proses tersebut tidak semata-mata merupakan pekerjaan kebahasaan: “Bagi saya, pekerjaan ini bukan sekadar memindahkan kata dari satu bahasa ke bahasa lain, melainkan sebuah ikhtiar untuk mempertemukan dua dunia: dunia pengalaman puitik Indonesia dengan dunia pembaca berbahasa Spanyol.”

Menurut Ewith Bahar, Ketua Tim Penyusun, penerbitan Hacia Todo juga diarahkan untuk membuka ruang diplomasi budaya melalui puisi: “Semoga buku ini mampu berperan sebagai alat diplomasi budaya, sekaligus menjadi jembatan penghubung antarbangsa di kancah global, terkhusus dalam hal ini Indonesia–Spanyol dalam konteks hispanik.”

Dalam proses penyusunannya, tim menetapkan dua pertimbangan utama dalam memilih puisi. Pertama, tema yang diangkat para penyair, terutama yang berkaitan dengan kebangsaan dan kemerdekaan. Tema tersebut dipandang relevan dengan momentum peringatan kemerdekaan Indonesia sekaligus dapat menjadi pintu masuk bagi pembaca dunia Hispanik untuk mengenal Indonesia melalui puisi.

Kedua, tim mempertimbangkan kekhasan, karakter, kekuatan bahasa, dan teknik kepuitikan masing-masing penyair. Pertimbangan tersebut dimaksudkan untuk menghadirkan sebagian dari keragaman estetika yang hidup dalam perpuisian Indonesia.

“Teknik pemilihan puisi dalam antologi ini merupakan tahap awal dari sebuah metode kuratorial yang akan terus kami kembangkan pada seri-seri berikutnya,” kata Sihar Ramses Simatupang, yang bersama Herman Syahara bertindak sebagai kurator buku.

Tim penyusun menyadari bahwa Hacia Todo tidak dimaksudkan untuk mewakili keseluruhan penyair maupun khazanah puisi Indonesia. Luasnya perpuisian Indonesia—dengan keragaman tradisi, generasi, bahasa, wilayah, komunitas, serta kecenderungan estetik—membuat mustahil seluruh kekayaan tersebut dirangkum dalam satu antologi.

“Antologi ini merupakan sebuah pilihan kuratorial, sebuah potongan kecil dari bentang luas perpuisian Indonesia, sekaligus sebuah langkah awal untuk membuka kemungkinan perjumpaan yang lebih luas dengan dunia,” ujar Herman Syahara.

Sementara itu, Sofyan RH. Zaid, penanggung jawab penerbitan buku selaku Plt. Ketua Yayasan Hari Puisi, mengakui bahwa proses menghadirkan antologi dwibahasa ini bukan pekerjaan sederhana: “Buku ini tentu masih jauh dari sempurna. Proses kurasi, penerjemahan, dan permohonan izin bukanlah perkara yang sederhana. Namun, semua itu kami lakukan demi sebuah ikhtiar untuk memperkenalkan puisi Indonesia kepada pembaca dunia, terutama masyarakat di negara-negara berbahasa Spanyol.”

Menurutnya, penerbitan seri pertama ini tidak berhenti sebagai sebuah proyek penerbitan buku, tetapi diharapkan menjadi pijakan awal dari gerakan yang lebih panjang untuk membawa puisi Indonesia ke ruang pergaulan sastra dunia.

Ketua Panitia Perayaan Hari Puisi Indonesia 2026 juga menyampaikan bahwa program Menduniakan Puisi Indonesia akan terus dikembangkan: “Seperti harapan semua pihak, di seri-seri selanjutnya program Menduniakan Puisi Indonesia, kami akan berupaya menghimpun lebih banyak puisi dari para penyair Indonesia untuk diterjemahkan ke bahasa asing lainnya.”

Harapan tersebut sejalan dengan pandangan Hafidz Muksin, S.Sos., M.Si., Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia, yang dalam pengantar buku menekankan pentingnya penerjemahan karya sastra sebagai bagian dari upaya mempererat hubungan antarbangsa: “Melalui puisi dwibahasa ini, akan semakin mempermudah pemahaman bahasa dan sastra Indonesia serta mempererat hubungan bilateral antara Indonesia dengan Spanyol.”

Bagi anggota Tim Penyusun, Willy Ana dan Julia Basri, penerbitan Hacia Todo merupakan sebuah langkah awal yang diharapkan terus berkembang menjadi perjalanan panjang: “Semoga langkah kecil ini menjadi bagian dari perjalanan panjang untuk membawa puisi Indonesia melampaui batas bahasa, wilayah, dan kebudayaan, sehingga puisi Indonesia benar-benar menjadi warga puisi dunia pada akhirnya…”

Melalui Hacia Todo, Yayasan Hari Puisi mencoba memperluas ruang perjumpaan puisi Indonesia dengan pembaca dunia, dimulai dari bahasa Spanyol dan kawasan Hispanik. Pemilihan bahasa Spanyol sebagai langkah pertama memiliki arti strategis karena bahasa tersebut membuka akses kepada masyarakat sastra yang jauh melampaui Spanyol, termasuk negara-negara Amerika Latin dan berbagai komunitas Hispanik di dunia.

Dengan demikian, Hacia Todo diharapkan menjadi sebuah gerbang awal: dari bahasa Indonesia menuju bahasa Spanyol, dari pengalaman puitik Indonesia menuju pembaca dunia, dan dari sebuah antologi menuju ikhtiar yang lebih besar untuk menempatkan puisi Indonesia sebagai bagian dari percakapan sastra dunia. (srs/hs)

Type above and press Enter to search.