Respons Kedutaan Negara Sahabat tentang Hacia Todo
Jakarta - Buku Hacia Todo diluncurkan pada Minggu, 30 Agustus 2026, di Ruang Serbaguna Lantai 4, Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Jakarta. Acara dirancang sebagai ruang perjumpaan antara sastra Indonesia dan dunia Hispanik. Sejumlah perwakilan diplomatik dan tamu internasional hadir, antara lain Mr. Fernando Burgos Sainz, (Wakil Duta Besar Spanyol), H.E. Luis Guillermo Arellano Jibaja (Duta Besar Ekuador), Mr. Ricardo Bicierril (Konsul & Atase Kedutaan Meksiko), serta Mr. Nicolas Montoya dari Kedutaan Kolombia.
“Kehadiran para diplomat tersebut memberi dimensi penting bagi Hacia Todo, bahwa puisi merupakan medium diplomasi budaya dan jembatan komunikasi antarbangsa,” ungkap Danny Susanto yang menghubungkan Yayasan Hari Puisi dengan mereka.
Dalam sambutannya, Mr. Fernando Burgos Sainz Wakil Duta Besar Spanyol) menyampaikan:
“Kami di Kedutaan Besar Spanyol menyambut dengan penuh kepuasan atas meningkatnya minat masyarakat di Indonesia untuk mempelajari bahasa Spanyol. Kami secara khusus sangat menyambut gembira minat yang ditunjukkan oleh Pemerintah Indonesia dan, teristimewa, proyek dari kementerian yang membidangi pendidikan menengah untuk memasukkan bahasa Spanyol sebagai mata pelajaran pilihan di sekolah-sekolah negeri di Indonesia. Kami berharap inisiatif ini dapat semakin dimantapkan dan diperluas dalam beberapa tahun ke depan.”
Hal senada juga diucapkan oleh Mr. Ricardo Bicierril (Konsul & Atase Kedutaan Meksiko):
“Saya percaya bahwa puisi memiliki kemampuan yang sangat istimewa untuk mendekatkan manusia satu sama lain. Meskipun bahasa Spanyol dan bahasa Indonesia merupakan dua bahasa yang sangat berbeda, dan Meksiko serta Indonesia terpisah oleh jarak ribuan kilometer, para penyair dari kedua negara berbicara tentang hal-hal yang dapat kita kenali dan rasakan bersama: cinta, alam, kenangan, waktu, identitas, dan kehidupan sehari-hari. Antologi ini tepatnya merepresentasikan hal tersebut: sebuah kesempatan bagi bahasa kita untuk saling berjumpa, sekaligus membuka ruang bagi para pembaca berbahasa Spanyol untuk mengenal suara-suara puitik dari Indonesia.”
Sementara itu, pada sesi bincang buku, H.E. Luis Guillermo Arellano Jibaja (Duta Besar Ekuador) menngungkapkan:
“Sebuah antologi sastra bertindak sebagai jembatan hidup diplomasi budaya yang mendekatkan realitas yang secara geografis saling berjauhan, menerjemahkan kepekaan yang dimiliki bersama antara Indonesia dan dunia berbahasa Spanyol, khususnya dengan Ekuador. Karya-karya semacam ini mendukung upaya resmi pendekatan bilateral, seperti yang didorong oleh misi diplomatik dan ruang-ruang pertemuan artistik. Kedua negara berbagi kekayaan multietnis dan tradisi lisan yang mendalam yang berdialog secara alami di ranah puisi dan narasi.”

