Sejarah Lahirnya Hari Puisi Indonesia
Hari Puisi Indonesia berawal dari pembicaraan antara Rida K. Liamsi dan Agus R. Sarjono sepulang dari menghadiri sebuah perayaan Hari Puisi di Vietnam. Dalam atmosfer kesusastraan antarbangsa yang menggugah itu, keduanya memantik pertanyaan penting: mengapa Indonesia —dengan kekayaan puisinya— belum memiliki satu hari khusus untuk merayakan puisi secara nasional? Gagasan tersebut kemudian ditularkan kepada Asrizal Nur dan Kazzaini Ks, dua tokoh sastra dari Riau yang aktif membangun basis kebudayaan di daerah.
Ide ini kemudian dibincangkan secara lebih serius saat Rida dan Agus bertemu dengan Maman S. Mahayana dan Ahmadun Yosi Herfanda dalam sebuah acara puisi di Korea Selatan. Pertemuan itu menjadi titik konvergensi gagasan yang lebih matang. Mereka sepakat bahwa diperlukan langkah konkret untuk mengangkat puisi ke ruang publik yang lebih luas dan merayakannya secara terhormat dalam kalender kebudayaan nasional. Maka, sekembalinya ke Indonesia, mereka memutuskan untuk membentuk sebuah tim kecil yang diberi nama Tim Tujuh, terdiri dari Rida K. Liamsi, Agus R. Sarjono, Maman S. Mahayana, Ahmadun Yosi Herfanda, Asrizal Nur, Kazzaini Ks, dan Jamal D. Rahman. Tim inilah yang bertugas untuk merancang, merumuskan, dan mewujudkan ide Hari Puisi Indonesia dari gagasan menjadi gerakan nyata.
Dalam perjalanannya, Tim Tujuh juga mengajak dua tokoh penting yang memiliki pengaruh besar dalam dunia perpuisian Indonesia, yakni Sutardji Calzoum Bachri dan Abdul Hadi W.M. sebagai penasihat. Kehadiran dua penyair sepuh ini memberikan legitimasi historis sekaligus kedalaman filosofis terhadap gagasan Hari Puisi Indonesia. Sutardji, yang dikenal sebagai “Presiden Penyair Indonesia” dengan revolusinya atas diksi dan bentuk puisi, serta Abdul Hadi, tokoh penting dalam puisi sufistik dan pemikir Islam yang tajam, memberikan perspektif yang memperkaya arah dan cakupan gagasan ini.
Menyadari bahwa sebuah hari kebudayaan tidak cukup hanya ditetapkan oleh sekelompok kecil individu, maka pada tanggal 22 November 2012 digelarlah Pertemuan Penyair Indonesia (PPI) di Pekanbaru, Riau. Forum ini disusun sebagai Focus Group Discussion (FGD) yang melibatkan perwakilan para penyair dari berbagai daerah di Indonesia, dari Aceh hingga Papua. Pemikiran ini berangkat dari kesadaran bahwa penetapan hari besar nasional; termasuk nama, tanggal, dan spirit perayaannya harus melalui partisipasi kolektif. FGD menjadi media penting untuk menggali aspirasi, menguji ide, dan menyepakati bersama nilai yang ingin diabadikan dalam Hari Puisi Indonesia.
Diskusi panjang dan dinamis pun terjadi. Para penyair saling mengajukan gagasan, bertukar pandangan, bahkan bersilang argumen mengenai tanggal yang layak dipilih, nama yang tepat digunakan, hingga bagaimana spirit hari puisi dapat disusun sedemikian rupa agar tidak sekadar menjadi seremoni tahunan, melainkan menjadi platform peradaban sastra Indonesia. Dalam forum inilah kemudian disepakati bahwa tanggal 26 Juli —hari lahir Chairil Anwar—ditetapkan sebagai Hari Puisi Indonesia. Pemilihan hari lahir, bukan hari wafat, dimaksudkan sebagai simbol kelahiran semangat, bukan kesedihan akan kehilangan. Dan nama “Hari Puisi Indonesia” dipilih, alih-alih “Hari Puisi Nasional”, untuk merangkul seluruh keragaman wilayah dan budaya Indonesia sebagaimana Bahasa Indonesia yang telah mempersatukan bangsa.
Dengan diselenggarakannya FGD dan pelibatan berbagai pemangku kepentingan sastra dari berbagai penjuru negeri, Hari Puisi Indonesia sejak awal dibentuk secara inklusif dan deliberatif. Ia bukan keputusan sepihak, tetapi konsensus kolektif yang lahir dari ruang dialog. Sebab itu, Hari Puisi Indonesia tidak hanya menjadi simbol selebrasi, tetapi juga ruang kesaksian bahwa puisi, dan para penyair, memiliki peran dalam merawat nilai-nilai kebangsaan dan kebudayaan secara sadar dan bertanggung jawab.
Setelah melalui perdebatan yang panjang, mereka membuat kesepakatan bersama:
- Perlunya Indonesia punya hari puisi yang bisa dirayakan setiap tahun sebagai hari persatuan bangsa sebagaimana negara-negara lain di dunia. Hari Puisi Indonesia ditetapkan sebagai titik ingatan untuk merayakan eksistensi para penyair dan karyanya sebagai aset bangsa.
- Pemilihan nama Hari Puisi Indonesia dengan memakai Indonesia bukan Nasional karena merujuk pada UNESCO yang menetapkan 21 Maret sebagai Hari Puisi Dunia, bukan Hari Puisi Internasional.
- Tanggal Hari Puisi Indonesia ditetapkan 26 Juli yang bertepatan dengan hari lahir Chairil Anwar, bukan hari wafatnya, 28 April. Salah satu alasannya adalah menjadikan kelahiran Chairil Anwar sebagai spirit kelahiran hari puisi. Selain itu, sebuah perayaan, tidaklah etis digelar di hari wafat seseorang.
Untuk menandai lahirnya Hari Puisi Indonesia dilakukan dengan pembacaan Teks Deklarasi Hari Puisi Indonesia yang dibaca oleh Sutardji Calzoum Bachri dan didampingi oleh 40 penyair perwakilan daerah yang hadir pada hari itu, yakni: Rida K Liamsi (Riau), John Waromi (Papua), D. Kemalawati (Aceh), Ahmadun Yosi Herfanda (Jakarta), Kazzaini KS (Riau), Rahman Arge (Sulawesi Selatan), Micky Hidayat (Kalimantan Selatan), Isbedy Stiawan ZS (Lampung), Fakhrunnas MA Jabbar (Riau), Anwar Putra Bayu (Sumatera Selatan), Dimas Arika Mihardja (Jambi), Pranita Dewi (Bali), Bambang Widiatmoko (Jakarta), Fatin Hamama (Jakarta), Sosiawan Leak (Jawa Tengah), Agus R Sarjono (Jakarta), dan Jamal D Rahman (Jakarta), Chavcay Syaefullah (Banten), Husnu Abadi (Riau), Hanna Fransisca (Kalimantan Barat), Husnu Abadi (Riau), Hasan Albana (Sumatera Utara), Hasan Aspahani (Riau), Iyut Fitra (Sumatera Barat), Marhalim Zaini (Riau), Pandapotan MT Silagan (Sumatera Utara), Jefri Al-Malay (Kepulauan Riau), dan Samson Rambahpasir (Kepulauan Riau).
Berikut teks deklarasinya:
Teks Deklarasi Hari Puisi Indonesia 26 Juli
Indonesia dilahirkan oleh puisi yang ditulis secara bersama-sama oleh para pemuda dari berbagai wilayah tanah air. Puisi pendek itu adalah Sumpah Pemuda. Ia memberi dampak yang panjang dan luas bagi imajinasi dan kesadaran rakyat nusantara. Sejak itu pula, sastrawan dari berbagai daerah menulis dalam bahasa Indonesia, mengantarkan bangsa
Indonesia meraih kedaulatan sebagai bangsa yang merdeka.
Bahasa Indonesia adalah pilihan yang sangat nasionalistis. Dengan semangat itu pula para penyair memilih menulis dalam bahasa Indonesia, sehingga puisi secara nyata ikut membangun kebudayaan Indonesia. Nasionalisme kepenyairan ini kemudian mengental pada Chairil Anwar, yang dengan spirit kebangsaan berhasil meletakkan tonggak utama tradisi puisi Indonesia modern.
Sebagai rasa syukur kepada Tuhan yang Maha Esa yang telah menganugerahi bangsa Indonesia dengan kemerdekaan dan kesusastraan, sekaligus untuk mengabadikan kenangan atas puisi yang telah ikut melahirkan bangsa ini, kami mendeklarasikan tanggal lahir Chairil Anwar, 26 Juli, sebagai Hari Puisi Indonesia.
Dengan ditetapkannya Hari Puisi Indonesia, maka kita memiliki hari puisi nasional sebagai sumber inspirasi untuk memajukan kebudayaan Indonesia yang modern, literat, dan terbuka.
Pekanbaru, 22 November 2012
Deklarasi ini berangkat dari pemahaman historis bahwa puisi memiliki peran fundamental dalam pembentukan kesadaran kebangsaan Indonesia. Hal ini ditunjukkan dengan menyebut Sumpah Pemuda sebagai puisi pertama Indonesia, bukan dalam pengertian sastra konvensional, tetapi dalam makna kultural dan simbolik sebagai pernyataan kolektif yang bernas, ringkas, dan menggugah.
Dalam teks tersebut, puisi tidak sekadar dilihat sebagai karya sastra, tetapi sebagai kekuatan ideologis dan simbolis yang melampaui bentuk estetikanya. Sumpah Pemuda disebut sebagai puisi karena ia menyuarakan kesatuan bahasa, tanah air, dan bangsa yang menjadi titik mula nasionalisme Indonesia modern. Puisi di sini menjadi bahasa kolektif untuk menciptakan realitas baru: Indonesia sebagai imajinasi bersama.
Dari titik itu, deklarasi ini melanjutkan argumen bahwa penyair Indonesia, dengan memilih bahasa Indonesia sebagai medium ekspresi, ikut andil dalam membentuk dan memperkuat kebudayaan nasional. Dalam konteks ini, bahasa Indonesia diposisikan sebagai proyek kebangsaan, dan para penyair adalah para pekerja budaya yang ikut menjahit kain keindonesiaan.
Figur Chairil Anwar ditempatkan secara simbolik dan historis sebagai representasi dari puncak nasionalisme kepenyairan. Chairil bukan hanya dikenal karena pembaruannya terhadap bentuk dan isi puisi, tetapi juga karena intensitas spiritual dan keberaniannya mengekspresikan semangat zaman-zaman ketika Indonesia sedang merebut makna dirinya.
Dengan memilih tanggal lahir Chairil Anwar, 26 Juli, sebagai Hari Puisi Indonesia, deklarasi ini menekankan pentingnya kelahiran sebagai simbol kebangkitan dan harapan, bukan kematian atau kehilangan. Ini adalah pilihan simbolik yang mendalam: puisi sebagai yang melahirkan dan terus melahirkan kesadaran baru. Hari itu tidak hanya menjadi hari penghormatan, tetapi juga hari pemaknaan dan perayaan terhadap kekuatan kreatif puisi dalam kehidupan berbangsa.
Tujuan akhirnya jelas: menjadikan Hari Puisi Indonesia sebagai sumber inspirasi dalam memajukan kebudayaan Indonesia yang modern, literat, dan terbuka. Artinya, puisi bukan sekadar kenangan masa lalu, tetapi menjadi alat untuk membentuk masa depan yang lebih inklusif dan beradab.
Teks Deklarasi Hari Puisi Indonesia 26 Juli menegaskan bahwa puisi bukan hanya produk seni, tetapi juga medium sejarah, politik, dan kebudayaan. Dengan menyatakan bahwa Indonesia dilahirkan oleh puisi, deklarasi ini memposisikan puisi sebagai kekuatan kreatif yang menyatukan dan membebaskan. Bahasa Indonesia dipahami bukan semata alat komunikasi, tetapi simbol nasionalisme dan pemersatu budaya. Dalam semangat itulah, Chairil Anwar dipilih sebagai ikon puisi Indonesia modern, dan tanggal kelahirannya dijadikan momen kolektif untuk merayakan puisi sebagai warisan dan visi kebudayaan.
Hari Puisi Indonesia, sebagaimana dideklarasikan, bukan hanya peringatan simbolik, tetapi sebuah panggilan budaya untuk terus merawat semangat puisi dalam pembangunan nasional. Ia adalah ajakan untuk menjadikan puisi sebagai denyut hidup yang memperkuat kebhinekaan, memperkaya literasi, dan menggerakkan transformasi budaya Indonesia secara terus-menerus.
)%20(1).png)